Kritik terhadap Perilaku Guru dan Murid di Media Sosial dalam Perspektif Budaya, Sosial, Psikologis, dan Agama

Pendahuluan

Perkembangan media sosial telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Guru dan murid kini tidak hanya berinteraksi di lingkungan sekolah, tetapi juga di ruang digital seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, dan platform lainnya. Media sosial memberikan banyak manfaat, seperti mempermudah komunikasi dan akses informasi. Akan tetapi, penggunaan media sosial yang tidak disertai etika dapat menimbulkan berbagai persoalan yang berdampak pada hubungan antara guru dan murid. 

Sebagai contoh, seorang murid membuat video gurunya yang sedang marah di kelas kemudian mengunggahnya ke TikTok tanpa izin. Video tersebut menjadi viral dan disertai komentar-komentar negatif yang merendahkan guru tersebut. Di sisi lain, guru tersebut kemudian membuat status di media sosial yang menyindir murid-muridnya dengan kata-kata yang kurang pantas. Akibatnya, hubungan antara guru dan murid menjadi tidak harmonis, bahkan menimbulkan perdebatan di masyarakat.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana yang bermanfaat sekaligus menjadi sumber konflik apabila digunakan tanpa memperhatikan etika dan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, perilaku guru dan murid di media sosial perlu dikritisi dari perspektif budaya, sosial, psikologis, dan agama.

Kritik dalam Perspektif Budaya

Bangsa Indonesia dikenal memiliki budaya sopan santun, menghormati orang yang lebih tua, dan menjunjung tinggi kedudukan guru sebagai pendidik. Guru dipandang sebagai sosok yang harus dihormati, sedangkan murid diharapkan memiliki adab dan tata krama yang baik. Namun, perkembangan media sosial telah melahirkan budaya baru yang cenderung lebih bebas dan kurang memperhatikan norma kesopanan. 

Pada contoh kasus di atas, tindakan murid yang merekam dan menyebarkan video gurunya tanpa izin merupakan perilaku yang bertentangan dengan budaya ketimuran yang menjunjung tinggi rasa hormat kepada guru. Sementara itu, guru yang menyindir murid melalui media sosial juga menunjukkan sikap yang kurang mencerminkan kebijaksanaan seorang pendidik.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa budaya mencari popularitas dan perhatian di media sosial sering kali mengalahkan nilai-nilai kesantunan yang telah lama menjadi ciri masyarakat Indonesia. Akibatnya, hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar rasa hormat dan kasih sayang berubah menjadi hubungan yang dipenuhi konflik dan saling menyalahkan.

Dengan demikian, budaya digital tidak seharusnya menghilangkan nilai-nilai luhur bangsa. Guru dan murid perlu menjaga etika dan tata krama dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Kritik dalam Perspektif Sosial

Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial masyarakat. Hubungan antara guru dan murid yang dahulu terbatas di lingkungan sekolah kini dapat diketahui oleh masyarakat luas melalui media sosial. Hal ini membuat suatu masalah kecil dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar. 

Dalam contoh kasus tersebut, video yang diunggah murid mengundang berbagai komentar dari masyarakat. Sebagian orang membela guru, sedangkan sebagian lainnya justru menghina dan mencemooh. Akibatnya, konflik yang sebenarnya hanya terjadi di lingkungan sekolah meluas menjadi konsumsi publik.

Selain itu, media sosial sering digunakan sebagai tempat melampiaskan emosi dan menyampaikan sindiran. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan serta mengurangi keharmonisan hubungan antara guru, murid, orang tua, dan masyarakat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rendahnya literasi digital dan kurangnya kesadaran terhadap etika bermedia sosial menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai konflik sosial. Oleh karena itu, media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dan membangun komunikasi yang positif, bukan sebagai sarana untuk mempermalukan atau menjatuhkan pihak lain.

Kritik dalam Perspektif Psikologis

Dari sudut pandang psikologis, media sosial dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kondisi mental seseorang. Komentar negatif, hinaan, dan perundungan di dunia maya dapat menimbulkan tekanan psikologis, baik bagi guru maupun murid. 

Dalam kasus tersebut, guru yang videonya viral merasa malu dan kehilangan kepercayaan diri. Ia merasa bahwa wibawanya sebagai pendidik telah menurun akibat komentar-komentar negatif dari masyarakat. Sementara itu, murid yang mendapatkan teguran dari pihak sekolah juga mengalami tekanan dari teman-temannya serta menjadi sasaran kritik dari banyak orang.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat menyebabkan stres, kecemasan, bahkan menurunkan kesehatan mental seseorang. Selain itu, keinginan untuk mendapatkan perhatian dan popularitas melalui jumlah tayangan, komentar, dan tanda suka sering kali membuat seseorang mengabaikan dampak yang ditimbulkan terhadap orang lain. 

Karena itu, guru dan murid perlu memiliki kecerdasan emosional dan kemampuan mengendalikan diri agar tidak mudah terpengaruh oleh emosi sesaat dalam menggunakan media sosial.

Kritik dalam Perspektif Agama

Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang mulia sebagai orang yang menyampaikan ilmu, sedangkan murid diperintahkan untuk menghormati dan memuliakan gurunya. Islam juga mengajarkan agar setiap muslim menjaga ucapan serta menjauhi perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. 

Allah Swt. berfirman:

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra': 53).

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan ajaran tersebut, tindakan murid yang menyebarkan video guru untuk mempermalukannya merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan adab Islam. Demikian pula guru yang menggunakan media sosial untuk menyindir atau mempermalukan murid juga bertentangan dengan akhlak seorang pendidik. 

Islam mengajarkan bahwa ilmu harus disertai dengan akhlak. Kehadiran media sosial seharusnya menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan, memberikan nasihat, dan mempererat persaudaraan, bukan menjadi tempat untuk melakukan ghibah, fitnah, dan permusuhan.

Penutup

Media sosial merupakan bagian dari kehidupan modern yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Guru dan murid memiliki tanggung jawab yang sama untuk menggunakan media sosial secara bijaksana dan bertanggung jawab. Berdasarkan perspektif budaya, sosial, psikologis, dan agama, dapat dipahami bahwa perilaku yang tidak beretika di media sosial dapat merusak hubungan antara guru dan murid serta memberikan



dampak negatif bagi kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu, diperlukan pendidikan karakter, peningkatan literasi digital, dan penguatan nilai-nilai agama agar guru dan murid mampu memanfaatkan media sosial secara positif. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi sarana yang mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang beradab, harmonis, dan sesuai dengan nilai-nilai agama serta budaya bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas praktek teknologi informasi

Konsep Inovasi Pembelajaran dan TPACK dalam Pendidikan

BIODATA DIRI